AD (728x60)

Diberdayakan oleh Blogger.

Estatisticas do Site

Pages

PUBLICIDADE

Super Ofertas

Labels

Labels

Selasa, 23 Juni 2015

Indigofera alternatif pakan berprotein tinggi

Share & Comment



Indonesia memiliki sumber bahan pakan untuk ternak
khususnya hijauan sangat beragam. Sayannnya
pemanfaatan sumber daya alam tersebut belum optimal
mengingat masih minimnya upaya penelitian tentang hal
itu. Beranjak dari itu, Luky Abdullah, Dosen Fakultas Ilmu
Nutrisi dan Teknologi Pakan Institut Pertanian Bogor (IPB),
sejak 2007 melakukan penelitian penggunaan tanaman
indigofera (Indogofera sp.) sebagai sumber hijauan pakan
untuk meningkatkan produktivitas kambing perah.
Guna memperkuat penelitian, ia sudah membudidayakan
Indigofera di Jonggol dan Darmaga Kabupaten Bogor. Dari
lahan seluas 1 ha milik Fakultas Peternakan Institut
Pertanian Bogor di Jonggol Jawa Barat, Luky sudah bisa
memproduksi benih indigofera .Sedangkan di daerah Darmaga Bogor di lahan
seluas 3.000 m digunakan untuk tanaman siap panen.
Protein Tinggi
Dari hasil pengamatan Luky, kualitas rumput lapang yang
ada saat ini rata–rata nilai proteinnya hanya 7 – 9 % dan
tidak mencukupi untuk kebutuhan kambing perah yang
mencapai 16 – 17 %. “Untuk mencukupi kebutuhan protein
tersebut daun indigofera dapat menjadi alternatif solusi,”
tandas Luky.
Luky menyebutkan indigofera merupakan tanaman yang
sudah lama diketahui mempunyai nilai protein tinggi. Nilai
protein daun indigofera bervariasi dari 25 – 28 % bahkan
bisa sampai 31 %. “Di dunia terdapat hampir 700 spesies
dan untuk kategori pakan yang sudah diteliti sebanyak 24
spesies. Jenis yang ada di Indonesia seperti Arrecta dan
Tabel komposisi nutrisi
Cordifolia,” ungkapnya. Ia menambahkan, daun indigofera
bersifat suplemen untuk menambah nilai gizi ransum
ternak. Apalagi jika ternak hanya diberi rumput dengan
kualitas protein yang rendah.
Industri Baru
Guna memudahkan dalam pemberian pada ternak, Luky
merancang daun indigofera menjadi pelet. Menurut Luky,
dalam bentuk pelet dapat lebih mudah dalam penanganan
dan distribusinya. “Mengingat jika masih berbentuk daun
sifatnya volummenous (balky) dan mudah busuk,” jelasnya.
Pria berkacamata ini menyebutkan pelet ini dibuat dari daun
tanaman indigofera berumur 60 hari. Pola tanamnya seperti
kebun teh, sehingga memungkinkan produksi kontinu
secara periodik.
Dihitung secara ekonomis, ia menjelaskan, pelet indigofera
memiliki nilai bisnis yang baik. Selain dibutuhkan oleh para
peternak dan industri pakan (sebagai bahan baku)
harganya juga relatif murah jika dibandingkan dengan
keunggulan yang ditawarkannya (praktis dan berkualitas
tinggi). Luky menuturkan, dibandingkan dengan konsentrat
yang mengandung protein 18 % produk ini lebih ekonomis. Karena
dengan kualitas yang sangat tinggi (protein 27 – 31 %)

Tags:

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Popular Content

Recent Posts

Why to Choose RedHood?

Copyright © Syama Garden | Designed by bangundesa.net